Minggu, 14 Juni 2009

kutipan novel

Minggu, 14 Juni 2009
Agatha Christie
Towards Zero (menuju titik nol)
“Bawang merah dan bawang putih”

Thomas Royde menemukan Mary Aldin sedang menantinya di stasiun waktu ia turun dari kereta api.
Tadinya ia hanya ingat samar-samar, dan kini mereka bertemu lagi, ia merasa sedikit takjub dan senang melihat kecakapan Mari menangani hal-hal tertentu.
Mary memanggilnya dengan nama kecilnya.
“Senang sekali melihatmu lagi Thomas. Sudah lama sekali.”
“Kau baik sekali menerimaku. Kuharap aku tak menyusahkanmu.”
“Sama sekali tidak. Sebaliknya, kedatanganmu sangat dinantikan. Apakah itu kuli yang membawakan barangmu? Katakan padanya untuk membawanya keluar dari sini. Mobilnya ada di pinggir situ.”
Tas-tas itu dimasukkan ke dalam mobil Ford. Mary memegang kemudi, Royde duduk di sebelahnya. Mobil itu bergerak dan Thomas melihat bahwa Mary adalah seorang pengemudi yang baik, awas, dan berhati-hati. Dia bisa mengira-ngira jarak dengan sangat baik.
Saltington terletak tujuh mil dari Saltcreek. Setelah mereka keluar dari kota kecil yang sibuk itu, Mary Aldin membuka lagi pembicaraan tentang kunjungan Royde.
“Sungguh Thomas kunjunganmu kali ini seperti diutus Tuhan. Suasana agak sulit dan kami memerlukan seorang asing atau lebih tepat orang luar.”
“Ada kesulitan apa?”
Nada suaranya, seperti biasanya, datar saja tak ada rasa ingin tahu sedikit malas. Sepertinya ia menanyakan pertanyaan itu hanya demi sopan santun, bukan untuk mendapat jawaban. Untuk Mary Aldin, seikapnya itu terasa menyejukkan. Ia memang sangat ingin bicara dengan seseorang tetapi ia lebih suka jika orang itu agak tak pedulian dan tak ingin tahu terlalu banyak.
Ia berkata,
“Yah…situasinya sedikit sulit. Audrey ada di sini, seperti yang mungkin sudah kau ketahui?”
Ia berhenti sebentar menanti jawaban, dan Thomas Royde mengangguk.
“Juga Neville dan istrinya.”
Thomas Royde mengangkat kedua alisnya ke atas. Beberapa saat kemudian ia berkata,
“Canggung juga – apa?”
“Ya semua itu gagasan Neville.”
Ia berhenti berbicara. Royde tak berkata apa-apa, tetapi seperti merasakan adanya arus ketidak percayaan darinya, Mary mengulangi dengan penuh tekanan.
“Sungguh itu memang gagasan Neville.”
“Mengapa?”
Mary mengangkat tangannya sebentar dari kemudi.
“Oh reaksi orang modern! Semuanya sebaiknya berhati mulia dan berteman. Itu gagasannya. Tapi kukira takkan berhasil.”
“Kelihatannya memang sulit.” Royde menambahkan, “Seperti apa istrinya yang baru?”
“Kay? Cantik, tentu saja. Benar- benar cantik sekali dan masih sangat muda.”
“Dan Neville sangat menyukainya?”
“Oh ya. Tentu saja. Mereka menikah satu setengah tahun yang lalu.”
Thomas Royde memalingkan kepalany perlahan untuk memandangnya. Mulutnya tersenyum kecil. Mary berkata dengan tergesa-gesa,
“Bukan itu yang kumaksud.”
“Ah, ayolah, Mary, kukira itu yang kaumaksud.”
“Baik, orang tak bisa pura-pura tak melihat bahwa keduanya sangat berbeda. Teman-teman mereka, misalnya…” Ia berhenti berbicara. Royde bertanya,
“Mereka bertemu di Riviera, bukan? Aku tak tahu banyak tentang itu. Hanya fakta- fakta gamblang yang ditulis oleh ibu saja.”
“Ya mereka bertemu pertama kali di Canes. Neville tertarik tapi kukira ia sudah pernah tertarik pada wanita lain sebelumnya. Maksudku tertarik biasa, tanpa ada apa-apanya. Aku masih berpendapat kalau saja waktu itu ia dibiarkan sendiri pertemuan itu takkan berbuntut panjang. Tadinya ia sungguh-sungguh mencintai Audrey, tahu?”
Thomas menganggukkan kepalanya. Mary meneruskan,
“Kurasa, sebetulnya ia tak punya niat untuk memutuskan tali perkawinannya. Aku yakin. Tetapi gadis itu gila-gila mengejarnya. Ia tak berhenti mengejar sampai Neville meninggalkan istrinya. Dan apa yang biasanya dibuat pria dalam situasi seperti itu? Itu membuatnya besar kepala, tentu saja.”
“Gadis itu sangat tergila-gila pada Neville, ya?”
“Kukira begitulah.”
Nada suara Mary terdengar agak ragu. Pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Royde dan pipinya memerah.
“Sirik amat aku ini. Ada seorang pria yang mengikutinya, tampan, sedikit seperti gigolo gayanya, teman lama Kay. Kadang-kadang aku berpikir, jangan-jangan itu ada hubungannya dengan fakta bahwa Neville adalah orang kaya dan ternama. Aku dengar gadis itu tak punya uang sesen pun.”
Ia berhenti berbicara, dan kelihatan sedikit malu. Thomas Royde hanya bergumam, “Hmm” dengan nada suara yang penuh spekulasi.
“Namun demikian,” kata Mary, “ Semua ini barangkali karena aku ini sirik. Gadis itu memang sangat cantik dan menarik …dan itu mungkin saja menimbulkan rasa dengki pada perawan-perawan tua seperti aku ini.”
Royde memandangnya dengan penuh perhatian, tetapi wajahnya tak menunjukkan perasaan apa-apa. Beberapa saat kemudian, ia berkata,
“Sebetulnya apa persoalannya sekarang ini?”
“Wah sebetulnya aku juga tidak tahu! Itulah anehnya. Tentunya kami tanya Audrey dulu, dan tampaknya ia tak berkeberatan bertemu dengan Kay, sikapnya sangat baik tentang itu. Memang ia baik sekali dalam hal ini tak ada yang bisa lebih baik dari dia. Audrey, tentu saja selalu bisa bersikap tepat dalam hal apa saja, juga terhadap kedua orang itu. Memang ia tertutup, dan tak seorangpun tahu apa yang ada dalam pikirannya, tetapi terus terang, kurasa ia memang sama sekali tak berkeberatan.”
“Tak ada alasan untuknya,” kata Thomas Royde. Lalu ia menambahkan, “Toh itu sudah tiga tahun yang lalu.”
“Apakah orang seperti Audrey bisa melupakan hal seperti itu? Waktu itu ia benar-benar mencintai Neville.”
Thomas Royde menggeser badannya.
“Ia baru 32 tahun. Masa depan terbentang luas dihadapannya.”
“Oh, aku tahu. Tapi, hal itu telah mengguncangkan jiwanya, lho. Membuatnya terluka.”
“Aku tahu. Ibu menulis padaku.”
“Di satu pihak,” kata Mary, “Kukira baik sekali untuk ibumu karena ada Audrey yang harus diurusnya. Itu membantunya untuk tidak terlalu tenggelam dalam kesedihannya karena kematian saudaramu. Kami ikut merasa sedih karena itu.”
“Ya. Adrian yang malang. Selalu menyetir terlalu cepat.”
Mereka berhenti berbicara sebentar. Mary memberikan aba-aba dengan tangannya yang menandakan bahwa ia akan membelok turun menuju Saltcreek.
Sementara ia menuruni jalanan yang sempit dan berkelok – kelok itu, ia berkata,
“Thomas…….kau mengenal Audrey dengan baik?”
“Begitu-begitu saja. Sudah sepuluh tahun aku tak bertemu dengannya.”
“Ya, tapi kau mengenalnya waktu ia masih anak-anak. Bagimu dan adrian ia seperti adik kandung saja, kan?”
Royde mengangguk.
“Pada waktu itu, apakah ia….seperti mengalami gangguan jiwa? Oh aku tidak bermaksud mengatakan bahwa ia sakit jiwa. Tetapi aku mempunyai perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengannya sekarang ini. Ia begitu tidak peduli dengan sekelilingnya…. Ketenangannya agak tidak normal. Kadang-kadang aku bertanya-tanya apa kiranya yang ada dibalik penampilannya yang begitu tenang itu. Kadang-kadang aku merasakan adanya arus emosi yang kuat. Dan aku tak tahu apa itu! Tetapi aku benar – benar merasa bahwa ia tidak normal. Ada sesuatu! Itu membuatku kuatir. Ku tahu bahwa ada sesuatu dalam suasana di rumah itu yang memepengaruhi setiap orang. Kami semua tidak tenang dan merasa was-was. Tetapi aku tak mengerti apa sebabnya. Dan kaddang-kadang, Thomas, hal itu membuatku takut.”
“Membuatmu takut?” nada suaranya terheran-heran membuatnya sadar akan dirinya dan ia tertawa gugup.
”Kedengarannya tak masuk akal……..tetapi itulah yang kumaksudkan tadi. Kedatanganmu baik sekali untuk kami semua, bisa mengalihkan perhatian. Ah, kita sudah sampai.”
Mereka telah mengitari belokan yang terakhir. Gull’s point dibangun di atas sebuah dataran karang yang tinggi dan menghadap ke laut. Di kedua sisinya terdapat karang yang terjal yang menurun dan langsung memecah ke laut. Di sebelah kiri rumah terdapat taman dan lapangan tenis, garasinya yang dibangun belakangan karena kebutuhan kehidupan modern. Terletak agak jauh di pinggir jalan, di sisi yang lain. Mary berkata,
“Aku akan memarkir mobil dulu dam kembali ke sini. Hurstall akan mengurusimu.”
Hurstall, ketua pelayan yang sudah tua itu, menyalami Thomas dengan keramahan seorang kawan lama.
“Senang sekali melihat Anda lagi, Tuan Royde. Sudah lama sekali. Nyonya pasti senang sekali. Anda akan tidur di ruang timur, Tuan. Saya kira semua ada di kebun, kecuali kalau Anda ingin beristirahat di kamar Anda dulu.”
Thomas menggelengkan keppalanya. Ia berjalan melalui ruang duduk menuju jendela yang membuka ke teras rumah. Ia berdiri sebentar di sana, memperhatikan. Hanya ada dua wanita di teras itu. Yang satu duduk di ujung birai, memandangi air laut. Wanita yang satunya sedang mengawasinya. Wanita yang pertama tadi adalah Audrey yang lain, ia tahu, pasti Kay Strange. Kay tak tahu bahwa ada orang yang sedang mengamatinya dan ia tak berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya. Thomas Royde, barang kali bukan seorang pria yang dengan mudah bisa menangkap ekspresi-ekspresi seorang wanita, tetapi kali itu dia bisa dengan mudah ia melihat bahwa Kay Strange sangat membenci Audrey Strange. Akan halnya Adrey, ia sedang memandang jauh ke sebrang sungai dan nampaknya tak sadar, atau tak peduli dengan kehadiran wanita yang satunya.
Sudah tujuh tahun Thomas tak bertemu dengan Audrey Strange. Kini ia mengamatinya dengan seksama. Sudah berubahkah ia, dan kalau berubah, dalam hal apa?
Ya, ada perubahan, pikirnya dalam hati. Ia lebih kurus, lebih pucat, dan secara keseluruhan masih lembut tapi masih ada sesuatu yang lain, sesuatu yang tak dapat disbutkannya dengan pasti. Wanita itu seakan-akan sedang berpegang kuat pada tali kekang, waspada dari waktu ke waktu dan toh penuh kesadaran akan apapun yang sedang berlaku disekelilingnya. Ia, pikirnya lagi, seperti seseorang yang mempunyai sebuah peristiwa yang harus disembunyikannnya. Tetapi rahasia apa? Ia mengetahui sedikit tentang hal0-hal yang telah menimpanya selama beberapa tahun terakhir. Ia tak akan heran apabila melihat garis-garis kesedihan dan penderitaan di wajahnya namun ini lain. Ia seperti seorang anak kecil yang mengatupkan kedua tangannya erat-erat untuk menyembunyikan sesuatu yang sangat disayanginya, tetapi dengan demikian mengundang perhatian orang terhadap barang yang ingin dilindunginya itu.
Lalu matanya tertuju ke wanita yang satunya, gadis yang kini menjadi istri Neville Strange. Memang cantik. Mary Aldin betul. Agak berbahaya, pikirnya lagi. Aku tidak akan bisa mempercayakan Audrey untuk berada di dekatnya kalau ia memegang sebelah pisau di tangannya…
Tetapi mengapa Kay harus membenci istri pertama Neville? Semua itu telah berlalu. Audrey tak punya tempat atau bagian lagi dalam hidup mereka sekarang.
Langkah-langkah kaki terdengar, waktu Neville masuk ke dalam rumah. Ia kelihatan hangat dan membawa surat kabar bergambar.
“Ini ilustrated reviewnya,” katanya. “Yang lainnya tidak dapat.”
Lalu 2 hal terjadi pada waktu yang bersamaan.
Kay berkata, “Oooh, bagus, berikan padaku,” dan Audrey, tanpa menggerakkan kepalanya, mengulurkan tangannya dengan setengan melamun
Neville menghentikan gerakannya setngah jalan di antara kedua wanita itu. Rasa malu tampak di wajahnya. Sebelum ia bisa berbicara, Kay berkata, suaranya meninggi dengan nada yang menunjukkan ketegangan saraf, “Aku mau itu. Berikan padaku! Berikan padaku, Neville!”
Audrey Strange terkejut, memalingkan kepalanya, menarik kembali tangannya dan menggumam dengan suara yang sedikit saja menunjukkan kebingungan, “Oooh, maaf. Kukira kau tadi berbicra padaku Neville.”
Thomas Royde melihat rona merah yang muncul di leher Neville. Neville maju tiga langkah dan memberikan surat kaba itu kepada Audrey.
Audrey berkata, ragu-ragu dan agak malu, “Oh, tetapi…”
Kay mendorong kursinya ke belakang dengan kasar. Ia berdiri, lalu berbalik, dan berjalan menuju ke jendela ruang duduk. Royde tak punya waktu untuk menghindar sebelum Kay menubruknya.
Kay terkejut dan langsung mundur. Ia memandang Royde sementara pria itu minta maaf. Pada saat itu Royde mengerti mengapa Kay tak melihatnya tadi matanya penuh dengan air mata yang mengambang air mata kemarahan, pikirnya.
“Halooo,” kata Kay. “Siapa anda? Ohh, tentu saja tamu dari Malaya!”
“Ya,” kata Thomas. “Saya tamu dari malaya.”
“Kalau saja aku bisa berada di Malaya saat ini,” kata Kay.” Bahkan di mana saja asal tidak disini! Aku benci pada rumah setan yang jelek ini! Aku benci pada semua orang yang ada di dalamnya.!”
Adegan-adegan yang penuh emosi selalu mencemaskan Thomas. Ia memandang Kay dengan hati-hati dan menggumam gugup, “Ehm.”
“Kalau mereka tak hati-hati,” kata Kay, “Aku akan bunuh seseorang! Kalau bukan Neville ya si kucing yang bermuka pucat itu!”
Ia melangkah melewati Thomas dan keluar dari ruangan sambil membanting pintu. Thomas Royde tetap berdiri tegak. Ia tak tahu pasti apa yang ingin dilakukannya sekarang, tetapi ia senang bahwa Nyonya Strange muda telah pergi. Ia memandang pintu yang baru saja dibanting keras-keras itu. Garang seperti macan, Nono Strange yang baru itu.
Neville Strange berhenti sebentar di antara pintu-pintu yang bergaya perancis itu, napasnya sedikit terengah. Ia menyalami Thomas dengan sedikit terbata. “Oh…emmm…halo, Royde. Aku tak tahu kau sudah tiba di sini. Ee…apakah kau melihat istriku?”
“Ia lewat sini kira-kira 1 menit yang lalu,” katanya.
Neville menyusul melewati pintu ruang duduk. Ia kelihatan jengkel.
Thomas Royde berjalan perlahan melewati jendela berambang rendah, yang terbuka itu. Langkah-langkahnya tidak berat. Audrey baru memalingkan kepalanya ketika ia berada tak berapa jauh darinya lalu ia melihat kedua itu membuka dan kedua bibir itu merenggang. Audrey meluncur dari tembok birai dan mendatanginya dengan kedua tangan terulur.
“Oh, Thomas,” katanya. “Thomas, sayang! Alangkah senangnya aku kau sudah datang.”
Pada waktu ia memegangi tangan yang kecil dan putih itu dengan tangan-tangannya sendiri dan melihat ke bawah untuk memandang wajah Audrey, Mary Aldin tiba di jendela bergaya Perancis itu. Melihat kedua orang di teras itu ia berhenti sebentar, memandang sejenak kepada mereka lalu dengan perlahan berpaling dan berjalan kembali ke dalam rumah.

0 komentar:

Posting Komentar

 
◄2009 gravitasi, Gravitasi-Zone