Selasa, 26 Mei 2009

MEMILIH KELAS JURUSAN UNTUK MASA DEPAN BANGSA

Selasa, 26 Mei 2009

Oleh: Mifa Indra Rosita

Sistem Pendidikan Indonesia yang ‘suka semaunya sendiri’ kerap kali memusingkan para siswa dan wali murid. Bagaimana tidak? Tentunya tidak lekang oleh ingatan kita bahwa hingga tahun 1980-an penjurusan untuk siswa SMA dilakukan saat siswa akan naik ke kelas 3. namun sejak tahun 1990, penjurusan sudah mulai dilakukan sejak siswa naik ke kelas 2 SMA. Tentu saja pemerintah memiliki itikad baik dibalik itu semua. Namun sampai mana generasi muda khususnya para siswa mengerti dan mampu mencerna ‘itikad baik dari pemerintah’ ini?

Penjurusan memang bertujuan mengelompokkan para siswa sesuai dengan bakat dan minta pelajar. Dan tindakan pemerintah ‘menjuruskan’ seorang siswa mulai usia dini merupakan hal yang patut diacungi jempol. Tapi sampai di mana siswa mampu mengkotak-kotakkan bakat dan minat dirinya sendiri?

Tujuan dari penjurusan selama ini telah diabaikan para siswa. Mengapa demikian? Para siswa lebih menuntut pada gengsi, serta pandangan jurusan tersebut di mata orang lain, terlepas dari bakat dan minat yang mereka miliki. 3 dari 5 siswa kelas X yang disurvey kecil-kecilan oleh penulis menyampaikan keinginan mereka masuk ke salah satu kelas jurusan karena kelas jurusan tersebut dianggap lebih ‘ngelas’, ‘keren’ serta alas an berjubel lainnya.

Anggapan yang membelok ini jelas harus segera diluruskan. Bukan masalah hari ini jika mereka lolos masuk ke dalam kelas jurusan hanya karena alasan-alasan di atas. Namun bagaimana kelanjutannya? Mereka bisa dipastikan tidak akan memberi kontribusi apapun pada jurusan tersebut karena niat mereka pada awalnyapun telah salah. Pada sekop yang lebih luas lagi, mereka tidak akan memberi kontribusi apapun pada dunia pendidikan di Indonesia.

Hal ini mungkin bisa dibilang ringan. Karena setiap siswa belum merasakan dampaknya. Tapi tidak sadarkah kita bahwa setiap bakat yang kita miliki sangat berharga bagi bangsa ini nantinya.

Sebagaimana contoh di bawah ini:

Rina adalah seorang anak yang memiliki bakat dan kecintaan yang tinggi pada dunia tulis menulis. Ia juga memiliki keistimewaan dalam bidang berbahasa dan kemampuan dalam bidang organisasi. Cita-citanya adalah sebagai pembawa acara berita tv. Maka ia-pun memilih jurusan bahasa untuk semakin memperdalam ilmunya dalam mencapai cita-citanya. Namun ia harus berpikir dua kali manakala keinginan itu ditanggapi oleh lingkungan sekitarnya yang seakan mengejek niat dan cita-citanya itu. Orangtuanya pun menginginkan Rina untuk masuk ke jurusan IPA, karena orangtuanya menganggap kelas jurusan tersebut lebih terlihat ‘mengelas’ daripada kelas jurusan pilihannya. Rina pun dengan terpaksa masuk ke dalam jurusan IPA.

Contoh Rina hanyalah sekelumit contoh-contoh yang belum terungkap ke permukaan. Betapa banyak pelajar, khususnya siswa SMA yang harus berperang melawan lingkungan dan cita-citanya. Dalam 1 tahap, Rina bisa lolos dari kepungan rasa ‘termarginalkan’ orang-orang sekitarnya karena ia sudah memenuhi permintaan pasar untuk masuk ke kelas jurusan yang sebetulnya tidak sesuai dengan kehendak hatinya. Tapi apakah ini sesuai degnan kehendak pendidikan yang berlaku di negara kita?

Bangsa kita tidak akan bisa maju kalau pelajarnya sebagian besar bersikap demikian. Saat diberi kesempatan untuk memilih, mereka malah mengambil jalan yang salah karena pengaruh dari sekitar mereka.

Inilah saatnya pelajar mulai peduli terhadap keputusan mereka. Sebab keputusan mereka sangat mempengaruhi perkembangan bagi dunia pendidikan.

Mungkin hanya harapan jika semua pelajar di Indonesia ini memiliki kemampuan sesuai dengan bidangnya. Namun rasana harapan seperti itu belum terlambat jikalau setiap siswa memiliki antusiasme terhadap dunia pendidikan. Terlepas dari resiko mereka akan termarginalkan atau tidak...

Dunia pendidikan tidak terlepas dengan masa depan negara kita, nantinya. Bagaimana perkembangan negara ini, tentu tidak terlepas dari tindakan generasi penerus bangsa. Jika generasi penerus bangsanya saja salah dalam menentukan jurusan, bagaimana dengan masa depan negara ini nantinya?

Kita tidak dapat memungkiri peran orang tua, guru, ataupun bagian Bimbingan Konseling dalam hal ini. Sebetulnya sangat disayangkan tindakan mereka yang memaksa keinginan anak untuk lebih menuruti keinginan ‘pasar’ daripada kemampuan mereka. Harusnya, para orang tua bisa mendukung. Karena dari dukungan tersebut akan timbul suatu motivasi dalam diri siswa.

Namun bagaimanapun siswalah yang sebetulnya sangat berperan dan mengetahui hal ini dengan pasti. Siswa lah yang akan membawa negara ini akan kemana nantinya.


2 komentar:

the STAT

lihat blogku juga rek... ah... auh-auh

http://wordsandcoffe.blogspot.com/

Pray

Weits!!!!
Tumben Mifa pinter gawe tulisan?????????????
Da bakat yang terpendam ne... Gali terus!!!!!

Posting Komentar

 
◄2009 gravitasi, Gravitasi-Zone